Senin, 01 Januari 2018

Traveling Pakai Itinerary, Yes Or No?


Traveling pakai itinerary, yes or no? Sejak 2 tahun belakangan ini, saya lagi senang banget traveling. Lebih tepatnya sih, lagi senang hunting tiket promo ke luar negeri. Traveling ala backpacker dengan budget yang terbatas. Kenapa harus keluar negeri? bukan kok, bukan saya ngga cinta Indonesia. Saya cinta bangettt sama tanah kelahiran saya yang indah tidak terkira ini. Alasan super simplenya, karena sebuah tiket pesawat keluar negeri jauh lebih murah daripada ke negeri sendiri. Alasan lainnya? ada lah, nanti deh saya bikin postingannya.



Sebuah perjalanan itu pasti perlu rencana. Walau ada yang bilang 'saya mah pergi ya pergi aja, ngga pernah direncanain' hmm.... padahal dengan bilang 'mau ke jogja ah' yang diucapkan pagi dan perginya siang, itu udah rencana loh. Jadi, bohong banget deh kalau pergi ngga pakai rencana.

Di dunia traveling, kita pasti familiar sama istilah ITINERARY. Ada yang menyingkatnya dengan ITIN, untung bukan IPIN yaa. Jadi, Itinerary ini adalah sebuah list atau catatan rencana perjalanan. Di destinasi yang kita tuju nanti, kita mau kemana aja, mau ngapain aja, mau beli apa, mau naik apa, endebrei endebrei. Rencana perjalanan ini dibuat untuk memudahkan rencana traveling kita. Jadi panduan supaya kita tahu mau kemana dan kemana, ngga hanya sekadar mengikuti kemana kaki melangkah aja. Dan, mencegah kemungkinan nyasar. Walau tetap aja ada yang nyasar walau sudah pakai itinerary #tunjukdirisendiri #terusketawaindirisendiri

Namun, tipikal traveler itu kan beda-beda. Ada yang merasa perlu menyusun itinerary, ada juga yang merasa mampu buat survive tanpa itinerary. Biasanya, tipe yang ngga mau pakai itinerary ini tipe yang cuek dan bebas. Berharap dapat pengalaman yang lebih menantang, salah satunya ya nyasar happy. Nyasar tapi malah dapat bonus view yang jarang didapatkan traveler lain.

Soal perlu ngganya seorang traveler bikin itinerary, saya sih bilangnya ya relatif dan subyektif yaa. Alasannya ya as I wrote above. Karena tipikal traveler itu beda, ya beda juga gaya travelingnya. Buat pemula atau yang memang well arranged-oriented banget, itinerary jadi hal yang penting. Tapi buat yang cuek dan mau lebih menikmati travelingnya, mungkin itinerary jadi ngga terlalu penting.

Saya Dan Itinerary 


Saya mulai traveling keluar negeri itu tahun 2015. Bisa ditebak deh ya destinasinya. The most favorite country of Indonesian People, Singapore. Kayanya belum sah travelingnya kalau belum ke negera singa itu. Negara yang luasnya ngga lebih besar dari Bekasi. Negara yang seharian dikelilingi pun kelar. Negara buatan yang katanya tanah urukannya pun ngambil dari Indonesia.


Pesona Singapura itu bikin greget dan selalu bikin orang Indonesia pengen kesana. Selain ikon fenomenalnya, Merlion, Singapura punya banyak destinasi yang menarik. Jaraknya yang ngga terlalu jauh, ditambah banyak tiket promo ke Singapura, jadi alasan orang Indonesia sering bolak-balik ke Singapura. Buat horang kaya, Singapura jadi destinasi wisata belanja barang-barang branded. Tapi buat backpacker, cukup foto di depan merlion, makan es krim (yang udah ngga) 1 dolar, udah Alhamdulillah.




Karena baru pertama kali keluar negeri, saya bikin itinerary dong. Maklum lah, newbie. Jadi serba excited. Semuanya diatur lewat rencana perjalanan yang saya susun 1 bulan sebelum keberangkatan. Pertama kali naik pesawat, langsung keluar negeri, sendirian pula. Wihh, benar-benar memacu adrenalin banget. Sebenarnya saya jalan bareng temen, tapi kami beda pesawat dan janjian di Changi coba. Betapa belagunya kami yang pede bakal ketemu. Dan pada akhirnya..... (baca deh kisah saya di Singapura yang bikin saya nangis di salah satu sudut Changi)

Baca Backpackeran Ke Singapura 

Perjalanan pertama saya keluar negeri diatur oleh itinerary.  Termasuk saat melanjutkan perjalanan ke negara tetangganya, Malaysia. Semuanya saklek diatur oleh itinerary. Sampai temen saya sebel sendiri, karena saya bentar-bentar keluarin kertas catatan.

'ngga asik banget sih lo, semuanya harus sesuai itinerary. Nikmatin aja sih traveling kita' 

Begitu ucap teman perjalanan saya yang udah kesel lihat saya terlalu ngikut apa kata itinerary. Karena saya sempat kesal dan agak ngambek karena ada destinasi yang ke-skip. Jadi wajar sih kalau teman saya itu agak bete. Ya, memang ada plus dan minusnya ketika kita memutuskan pakai itinerary dalam traveling kita. Plusnya, perjalanan kita lebih teratur. Potensi nyasar bisa lebih kecil, dan kita bisa saving time so that our time is more effective


Minusnya, kita hanya terpaku pada beberapa destinasi yang (mungkin) mainstream. Kita hanya fokus dengan destinasi yang hanya ada di catatan. Maybe, we can not find the other awesome gem. Karena kita terpaku sama itinerary, kita jadi ngga bisa ketemu sama sesuatu yang lebih menantang dan mengasikkan.


Karena punya pengalaman pakai itinerary, saya coba untuk ngga bikin itinerary ketika ke Macau dan Hongkong tahun lalu. Teman perjalanan saya sih bikin list kemana aja selama di dua negara itu. Akhirnya saya cuma ngikutin aja. Ketika di Hongkong, kami cuma sehari aja barengan. Karena beda penginapan dan saya memang harus ngisi workshop di Perpustakaan Konsulat Jenderal Causeway Bay, jadilah kami pisah dan ketemu lagi di bandara untuk pulang bareng. 

Selama di Hongkong tanpa teman, saya berusaha untuk survive dan eksplor Hongkong sendirian. Ada sih satu hari ditemani seorang Pekerja Migran Indonesia yang lagi cuti kerja. Alhamdulillah, diajak muter-muter Hongkong plus dijelasin tentang tempat-tempat yang kita datangin. Malamnya diajak nongkrong di Victoria Harbour sambil lihat atraksi lampu yang dari gedung-gedung itu. Menikmati malam yang anginnya ngga santai nampar-nampar muka. Dari yang rame banget sampai sepi. Ngobrol kedinginan sambil ngeluarin bekal yang dibeli di pasar. Seru banget. 

Menikmati jalan sendirian di jalanan Hongkong yang ngga pernah sepi. Interaksi dengan warga lokal, yang walau cuma bisa pakai bahasa tubuh tapi seru. Tanpa itinerary, ternyata ngga bikin perjalanan jadi ngga asik. Tetap jadi perjalanan yang unforgetable, kalau kita mau menikmatinya.



Tips Membuat Itinerary 


Kalalu ditanya, traveling itu enakan pakai itinerary atau ngga? jawabnya ya it's depand on you. Gaya traveling kamu ya gimana. Jadi, yang bisa menentukan perlu ngganya sebuah itinerary ya kamu sendiri. Mau traveling yang terencana dengan baik supaya waktu yang dimiliki pun efektif, ya pakai itinerary. Mau yang lebih bebas, lebih menantang, dan punya banyak waktu buat eksplor ya bisa ngga pakai itinerary.

Tapi kalau ada yang mau pakai itinerary, sebenarnya apa aja yang harus ada di dalam itinerary. Ini based on pengalaman saya bikin sebuah rencana perjalanan yaa.

  1. Tempat yang akan dikunjungi. Of course lah ya. Itu tujuan utama dalam sebuah itinerary. Kita punya panduan mau kemana dan kemana. Boleh disusun lengkap dengan jamnya, boleh juga ngga. Pilih tujuan/tempat yang banyak referensinya. Kita bisa dapat referensi dari travel blogger, komunitas traveler, atau dari teman sendiri yang sudah pernah ke tempat itu. Better, urutkan dari yang terjauh dulu supaya di hari-hari terakhir kita bisa eksplor tempat yang dekat-dekat. Tujuannya, kita bisa saving time buat kembali ke bandara. 
  2. Transportasi. Ini yang ngga kalah penting. Cari tahu transportasi apa yang bisa mencapai lokasi yang kita tuju. Dimana transportasi itu bisa kita dapatkan, berapa ongkosnya, kita harus turun dimana, dan kapan waktu beroperasinya. Catat semuanya di dalam itinerary. Kalau kamu rajin dan tidak sombong, sila bikin pakai tabel excel yang rapih. 
  3. Apa yang akan dilakukan. Masukan juga dalam bagian note itinerary. Setelah sampai lokasi yang kamu tuju, mau ngapain aja. Find local food, chit chat with local people, take a picture, or just walking on the street and sightseeing. Catat aja semua yang mau dilakukan, biar ngga lupa. 
  4. Budget yang dikeluarkan. Jadi, yang namanya traveling kan ngga mungkin kalau kita ngga keluar uang. Alokasikan budget yang nanti bakal kamu keluarkan dan TAATILAH. Kalau ngga mau kere setelah pulang traveling ya jangan keluarkan uang yang ngga masuk budget. Di dalam itinerary, kamu bisa bikin kolom budget di setiap destinasi yang kamu tuju. Jadi ketauan tuh, berapa yang akan kamu keluarkan di tiap destinasi.
Itu tips membuat itinerary ala gayaransel. Semoga membantu buat kamu yang lagi menyiapkan rencana perjalanan. Intinya sih ya, mau pakai itinerary or even not at all, yang penting adalah menikmati perjalanannya itu sendiri. Ada itinerary tapi kalau mau nyoba ke tempat yang ngga ada di list, ya silakan aja. Make your trip as your awesome journey. Jangan malah jadi beban dan kesel sendiri kalau ada destinasi yang keskip #tujukdirisendirilagi

Traveling kan idealnya menemukan pengalaman baru. Jadi nikmatilah setiap perjalanan. Syukur-syukur kalau dalam perjalanan kita bertemu dengan sesuatu yang ngga kita duga. Jodoh misalnya #ehmmm but, don't forget to back home yes. Karena, senyaman apapun di negara orang, tetap lebih nyaman di negara sendiri. 



5 komentar:

  1. Awal travelling bikin itin detail sampai cost segala. Tp sekarang nggak detail, cm info mau kemana aja biar travelling nya lebih enjoy :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Awal-awal emang well prepared banget ya dee. Makin sering traveling jadi lebih santai.

      Hapus
  2. Gamblang sekali penjelasannya. saya sangat suka. Terima kasih so much.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...